Media sosial hari ini ibarat samudra luas yang berkabut. Semua orang berlayar, tetapi tidak semua membawa kompas. Di tengah arus informasi yang deras, lahirlah para aktivis media sosial—bukan sebagai nahkoda pengetahuan, melainkan sering kali sebagai penumpang gelombang yang terbawa arus viralitas.
Smartphone menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membuka gerbang pengetahuan; di sisi lain, ia melahirkan generasi demonstran digital yang lebih sibuk mengangkat suara daripada mengasah pikiran. Kritik berubah menjadi teriakan, argumen menjelma slogan, dan nalar dikorbankan demi cuan dan tepuk tangan algoritma.
Budaya ikut-ikutan adalah penyakit menular di ruang digital. Sentimen diproduksi massal, hoaks dirakit seperti barang pabrik, dan manipulasi dikemas sebagai keberanian. Aktivisme tak lagi berdiri di atas data dan kajian, tetapi di atas tren sesaat yang cepat basi. Yang penting ramai, bukan benar; yang penting gagah, bukan bernalar.
Kelompok-kelompok berkepentingan berperan sebagai dalang di balik layar, terus-menerus memproduksi narasi ideologis yang perlahan menghegemoni kesadaran publik. Aktivis media sosial pun tak ubahnya boneka algoritma, bergerak sesuai tarikan benang kepentingan, sering kali tanpa sadar siapa yang menggerakkannya.
Di daerah, krisis ini terasa lebih telanjang. Ketika kapasitas keilmuan tak diperkaya, nalar kritis pun mengalami degradasi. Aktivis berubah menjadi follower berlabel pejuang, mengutip tanpa menguji, membagikan tanpa memverifikasi. Mapping data dianggap kemewahan, metode ilmiah dicap ribet, dan kejujuran intelektual dikalahkan oleh kecepatan unggah.
Akhirnya, aktivisme digital menjelma api unggun semu terlihat menyala terang di layar, tetapi minim panas untuk perubahan nyata. Selama nalar kritis terus ditukar dengan sensasi, dan intelektualitas digadai demi cuan, maka media sosial bukan lagi ruang pembebasan, melainkan pasar ilusi tempat keberanian palsu diperjualbelikan.
Aktivisme sejati seharusnya seperti obor di lorong gelap: menerangi, bukan membakar; menuntun, bukan membutakan. Tanpa itu, kita hanya akan terus berteriak di ruang gema mendengar suara sendiri, dan menyangka itulah kebenaran.




